Boleh jadi, sekarang ini Rifqi Alfian dari Gresik menjadi
nama yang sangat populer. Betapa tidak, petisinya yang dibuat melalui
www.change.org untuk menghentikan Yuk Keep Smile (YKS) ternyata memberi
pengaruh lebih dahsyat dibanding tindakan yang sudah dilakukan Komisi Penyiaran
Indonesia (KPI). Betapa tidak, jika KPI baru bergerak mengeluarkan surat ke
Trans TV setelah sekian lama YKS tayang, petisi yang dibuat Rifqi -belum sampai
sebulan- justru sudah berhasil mengguggah 29.764 pendukung per Minggu, 5 Januari
2014 ini.
Memang, saat ini dibutuhkan orang-orang seperti Rifqi yang
berani melawan kapitalisme yang menjangkit di pertelevisian nasional. Meski
tidak sepaham 100% dengan Rifqi -terutama dalam hal menghentikan program,
karena saya tetap ikut aturan KPI sebagai pemegang amanat - , tetapi saya salut
dan respek dengan tindakannya.
Gara-gara Rifqi, seluruh masyarakat pencinta tayangan
televisi sehat, menjadi kompak. Meski ada pro-kontra, tetapi melihat aneka
komentar di social media, baik di Facebook maupun Twitter mendukung tindakan
Rifqi. YKS dianggap jauh dari nilai positif dan berdampak buruk pada remaja dan
anak-anak. Di kolom Aspirasi di situs KPI sendiri, dalam dua hari terakhir ini
banyak mengkritisi tayangan YKS. Coba Anda perhatikan komentar-komentar di
bawah ini:
Namun, tahukah Anda, bukan cuma YKS yang minta dihentikan,
tetapi ada program lain yang sesungguhnya juga banyak diprotes, yakni
Pesbukers. Meski belum ada orang seperti Rifqi yang berani membuat petisi,
“diam-diam” protes penonton pada Pesbukers sudah cukup banyak. Bahkan jumlahnya
nyaris seimbang dengan YKS.
Sebetulnya, nasib Pesbukers sudah “diunjung tanduk”.
Artinya, tinggal menunggu momentum lagi, Pesbukers bisa saja dihentikan
penayangannya. KPI sudah beberapa kali mengirimkan surat teguran pada ANTV,
karena Pesbukers telah melanggar aturan yang sudah ditetapkan di Pedoman
Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS). Mari kita tengok
data-data yang saya himpun berikut ini:
1. Pada 18 April 2012, Pesbukers menayangkan adegan Julia
Perez alias Jupe menutupi kepala Raffi Ahmad dengan rok yang dipakainya.
Penayangan tindakan tersebut telah melanggar P3 Pasal 7 dan Pasal 9, serta SPS
Pasal 6 ayat (2) huruf a dan Pasal 9.
2. Pada 24 Mei 2012, Jupe menyanyikan lagu Belah Duren yang
berisi muatan dewasa di hadapan para pelajar SMK.
3. Pada 19 Juni 2012, Olga Syahputra mengatakan: “Jupe
dikit-dikit Assalamu’alaikum, bagus sih…Tapi kalau Assalamu’alaikum terus
lama-lama kayak pengemis yee…”. Ucapan Olga tersebut mengomentari Jupe yang
menyapa penelepon masuk dengan ucapan: Assalamu’alaikum. Jenis pelanggaran ini
dikategorikan sebagai pelanggaran atas penghormatan teradap nilai-nilai agama
dan norma kesopanan. Saat itu KPI Pusat juga menerima surat No. B-318/MUI/VII/2013
tertanggal 08 Sya’ban 1433 H/ 28 Juni 2012 M dari Majelis Ulama Indonesia
(MUI), perihal ucapan Olga.
4. Pada 3 Juli 2012, KPI mengirimkan surat bernomor
424K/KPI/07/12. Surat tersebut berisi
sanksi administratif penghentian sementara Pesbukers selama 7 (tujuh)
hari berturut-turut sejak 9 Juli hingga 15 Juli 2012.
5. Pada 15 Juli 2013, KPI mengirimkan surat teguran tertulis
untuk acara Sahurnya Pesbukers tayangan 10 Juli 2013 pukul 01:56 wib. Di
episode ini, Pesbukers menayangkan adegan yang melecehkan orang dan/ atau
masyarakat dengan kondisi fisik tertentu, serta pelanggaran terhadap norma
kesopanan. Adegan-adegan tersebut antara lain:
· Sapri berkata kepada Andika yang menggendong Daus Mini,
“Tadi gue lihat lu bawa monyet tiga, sekarang tinggal satu….”
· Eko berkata tentang Daus Mini, “Ganteng-ganteng dibilang
monyet…itu bukan monyet… (tapi) nying-nying..”
· Eko menyebut Daus Mini, “Ini bukan catur. Ini biji
congklak”.
· Andhika berkata kepada Eko, “Daus kalo lihat ini suka
sedih (sambil menunjuk corong). Inget zaman lahirnya dulu. Nyokapnya nggak
nyampe ke bidan akhirnya lahirnya pake corong jadinya keluarnya kecil”.
· Andhika berkata kepada Gading tentang daus, “Dia bingung.
Orang dari dulu nggak pernah gede, kok lu tanyain kalo udah gede mau jadi apa?”
Gading menyambung, “Daus kalau tetap kecil mau jadi apa?”
· Andhika berkata tentang Daus, “Daus itu hidupnya sial
banget ya! Udah tua, kecil, ketiban banci lagi”.
Itulah sejumlah “dosa-dosa” yang dilakukan Pesbukers. Itulah
kenapa saya katakan, Pesbukers sebetulnya sudah “diunjung tanduk”. Namun,
nasibnya ternyata lebih mending dibanding YKS yang sekarang justru sudah “di
ujung tanduk”. Petisi Rifqi menggugah ribuan orang untuk mendukung petisi dan
pasti di luar petisi masih ada jutaan orang lagi yang mengingkan YKS
dihentikan. Sementara, belum ada petisi yang menginginakn Pesbukers dihentikan.
Padahal bukan cuma YKS yang minta dihentikan. Coba saja baca komentar-komentar
di kolom Aspirasi di situs KPI berikut ini:
Tulisan ini tidak bermaksud memprovokasi agar ada orang
membuat petisi menghentikan Pesbukers. Tetapi saya berharap, petisi Rifqi
menjadi momentum untuk pengelola stasiun televisi untuk memperbaiki
program-program yang sudah ada agar berkualitas, atau membuat program-program
baru yang bermutu. Parameter berkualitas atau bermutu sebenarnya sederhana,
tetap menghibur, tetapi isinya tidak penuh dengan kekerasan, caci maki, saling
mengumpat, melecehkan orang dan/ atau kelompok tertentu.
No comments:
Post a Comment